Baddrut Tamam, Santri Aktivis Pemimpin Harapan Pamekasan

By Kontributor 07 Mar 2018, 16:31:28 WIBTokoh

Baddrut Tamam, Santri Aktivis Pemimpin Harapan Pamekasan

Keterangan Gambar : Calon Bupati Pamekasan 2018, Baddrut Tamam.


Pamekasan, matahationline.com – Dulu, hari-harinya hanya dihabiskan untuk membaca, menulis, dan memimpin demonstrasi. Baginya, rakyat yang tertindas harus dibela, dan negara harus memihak kepada mereka. Karena itu, semua kebijakan yang tidak pro rakyat harus dilawan, baik dengan tulisan maupun dengan aksi demonstrasi.

Sebagai seorang organisatoris, dia sadar betul bahwa pembelaan terhadap rakyat harus mendapatkan dukungan dari banyak kalangan, termasuk mahasiswa dan rakyat itu sendiri. Untuk itu, kaderisasi dan mobilisasi untuk pembelaan terhadap mustad’afien menjadi bagian perjuangannya.

Itulah gambaran yang tersemat pada sosok Baddrut Tamam, aktivis pergerakan yang menamatkan pendidikan sarjana pada Program Studi Psikologi UMM Malang. Atas aktivitasnya, tokok asal Pamekasan yang akrab disapa Ra Baddrut ini sadar betul, pilihan hidup di dunia pergerakan memiliki konsekuensi logis yang tak terelakkan. Salah satunya, Ra Baddrut langganan dipanggil rektorat untuk dimintai keterangan atas kritik yang dilakukannya. Bahkan tidak jarang, Ra Baddrut harus berurusan dengan kepolisian guna menjelaskan sebuah demonstrasi yang dilakukannya, yang diduga sebagai tindakan melawan negara.

Ketika matahati bertanya mengapa harus memilih jalan hidup yang beresiko itu, Ra Baddrut menjawab dengan tangkas dan padat. “Saat itu yang saya pikirkan hanya satu: rakyat wajib dibela, untuk itu, tidak boleh takluk kepada negara yang menindas!”.

Maklum, saat itu masih tahun 1998, dimana seluruh perangkat negara seperti Polri dan militer dikerahkan untuk merepresi kekuatan-kekuatan sosial. Tetapi sekalipun senjata yang ada di depannya, tidak terlintas kata mundur di kepala Ra Baddrut. Ia begitu teguh memegang pendirian.

Di masa krisis moneter dan huru-hara politik tahun 1998-1999, harga kebutuhan dasar mulai dari beras, sayur-mayur, hingga bawang putih dan bawang merah membumbung tinggi. Orang kecil terseok-seok memenuhi kebutuhan dasar itu. Ironisnya, sedikit sekali kelompok sosial yang menggalang kekuatan untuk menentang. Ra Baddrut terpanggil dan mulai gigih mengibarkan bendera perlawanan.

Bagi Ra Baddrut, biang dari seluruh masalah itu berpangkal pada satu hal: kediktatoran Presiden Soeharto! Nyaris seluruh posisi penting negeri ini diduduki keluarga dan kroni Soeharto. Kalau ada pihak lain yang tertarik duduk di posisi tertentu, maka harus mengikuti semua aturan yang dikehendaki Soeharto. Jika tidak setuju berarti dianggap musuh. Hanya itu pilihan yang tersisa.

Kondisi demikian membuat situasi menjadi serba tidak menentu. Kadang harga beras normal, kadang naik dua kali lipat. Maka tidak sedikit orang yang lantas berkongsi dengan pemerintah guna mencapai tujuan. Meski tidak sedikit yang diam-diam membangun kekuatan dari bawah tanah. “Saat itu barangkali kami adalah satu dari yang bergerak dari bawah tanah itu,” kata Ra Baddrut.

Beruntung, meski tidak pernah sekalipun mundur menghadapi kediktatoran Orde Baru, Ra Baddrut tidak pernah mencicipi bui. Ia bersama sahabat-sahabat seperjuangan selalu selamat dari sergapan militer.

“Mungkin alasannya agak berlebihan. Tapi memang inilah yang terjadi. Bahwa ada salah satu diantara kami yang diberi mandat untuk mendekati militer. Tugasnya, ‘menguping gerak-gerik’ tentara. Jadi, ketika ada informasi bahwa kami anggap aman untuk bergerak, maka kami pun tak ragu-ragu melakukan kritik pedas. Sebaliknya, ketika informasi mengatakan darurat, mau tak mau kami menahan kekuatan,” ujar Ra Baddrut, ketika ditanya resep mujur yang dialaminya.

Belajar Kepemimpinan

Ra Baddrut Tamam, lahir dari pasangan (alm) KH. Malidji dengan Hj. Maftuhah Djufri. Istrinya bernama Naila Hasanah. Sampai di usia yang ke-37 tahun ini, ia dikaruniai tiga anak yang antara lain: Nahda El Ikhtimam, Shofiya Tamam, dan Mohammad Dzuhri Tamam.

Sebagai seorang yang dibesarkan di kultur pesantren, Ra Baddrut banyak menimba ilmu di pesantren. Mulai dari menamatkan Sekolah Dasar di Tlesah Pamekasan, nyantri di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-bata hingga nyantri  ke KH. M. Zaim Syakir Ma’sum di Lasem, Rembang.

Sejak kecil, bibit-bibit kepemimpinan Ra Baddrut sudah muncul. Saat duduk di Sekolah Dasar, tak jarang guru menunjuknya sebagai ketua kelas. Ketika menempuh sekolah Tsanawiyah dan Aliyah, Ra Baddrut sering terlibat dalam organisasi.

Menginjak bangku perguruan tinggi, Ra Baddrut lantas mencicipi pendidikan di luar pesantren. Ia tercatat sebagai mahasiswa baru di jurusan Psikologi Universitas Muhamadiyah Malang pada tahun 1998.

Kota Malang semakin membuka mata dan pikirannya. Beberapa kelompok diskusi bahkan lahir dari buah tangannya. Kelompok itu antara lain Lembaga Studi Psikologi dan Islam (LSPI Phenomenon), Lembaga Studi Islam dan Transformasi Sosial (ELSiTS), Ibn’ Araby Study Club Malang dan Pusat Studi Pengembangan Kebudayaan (PUSPeK) Averroes Malang.

Di Malang juga Ra Baddrut tergabung dalam sebuah wadah bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sebuah organisasi ekstra kampus. Di PMII, Ra Baddrut tidak hanya suka membaca buku dan diskusi, melainkan lebih dari itu: belajar turun ke jalan, berkontribusi secara nyata kepada masyarakat. Bahkan oleh sahabat-sahabat pergerakan, Ra Baddrut dipercaya Ketua Umum PMII Kordinator Cabang (Korcab) Jawa Timur.

“Selain kajian filsafat dan diskusi dari  berbagai jenis ilmu, kegiatan rutin yang juga kami lakukan turun ke jalan. Ilmu yang kami dapat di buku itu perlu praktik, dan turun ke jalan adalah bagian dari praktik itu. Begitu pula dengan menulis makalah atau artikel untuk sebuah koran dan majalah,” jelasnya. Ringkasnya, inti dari aktivisme pergerakan adalah mendialektikkan aktivitas berfikir dan bergerak.

Transformasi Sang Aktivis

Matahati bertemu Baddrut Tamam awal bulan lalu di ruang kerjanya DPRD Jawa Timur. Kini, dadu nasib mempertemukannya menjadi salah satu anggota DPRD Jatim. Terpilih dari Dapil XI Madura untuk periode kedua, pemilu tahun 2009 dan pemilu 2014 silam. Bahkan kini Ra Baddrut Tamam diberi amanah untuk memimpin Fraksi PKB DPRD Jawa Timur sebagai Ketua.

Ruang kerja Ra Baddrut tampak sederhana, berukuran sekitar 3 x 6 persegi. Sebuah kursi kerja dan beberapa kursi tamu tertata rapi. Beberapa buku tebal berjejer di pojok ruangan. Sementara di dinding terpajang sebuah lukisan wajah Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid atau populer disapa Gus Dur.

“Sejak dulu saya selalu menyukai Gus Dur. Beliau adalah tokoh penting bukan saja untuk warga Nahdiyin, bukan hanya bagi kalangan agamis, namun juga menginspirasi segala jenis elemen masyarakat. Beliau adalah inspirator bagi banyak kelompok sosial, dari mulai kelompok kiri sampai kanan,” ujar Ra Baddrut.

Selain mendapat inspirasi dari Gus Dur, Ra Baddrut juga mengakui mendapat banyak pelajaran langsung dari ayahnya. Setiap kali bertemu, terutama ketika masih berjauhan dengan rumah, ayahnya selalu mengingatkan untuk belajar yang benar, tidak boleh membuat orang lain merasa kesusahan.

“Mon sabhektoh-bhektoh been dhaddhih pamimpin se epele oreng. Jariyeh, ompamaenah padheh bhek oreng lake’ asongotan. Oreng lake’ asongot reyah ganteng. Tapeh, pamimpin se epele reyah padah bek songot pasangan atabah songot palsu,” ujar Ra Baddrut, menirukan seperti yang pernah diucapakan ayahnya.

Maksudnya, jabatan atau posisi yang diperoleh dari hasil pemilihan itu memang terhormat, sama seperti seorang pria berkumis yang gagah. Tapi kumis itu palsu. Artinya, suatu saat, kumis pasti lepas dari lelaki itu dan saat itulah dia tidak kelihatan ganteng dan gagah lagi. Karena itu, jangan jadikan jabatan dan posisimu berjarak dengan rakyat. Sebaliknya, jadikan jabatan sebagai wasilah pengabdian belaka.

Itulah kalimat yang dipegang Ra Baddrut setiap kali belajar maupun bekerja, baik di rumah atau di kantor, baik di sekolah atau atau di pesantren, dari dulu hingga sekarang.

“Jika dulu aktivitas yang kami lakukan untuk menuntut apa saja yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki masyarakat, itu merupakan wasilah kami sebagai pelajar, sebagai mahasiswa. Sekarang saya berharap juga akan senantiasa berada di jalur yang sama, membela mereka yang terpinggirkan, membantu mereka dari kursi DPRD ini,” jelasnya.

Ra Baddrut terlihat cakap bicara. Tidak sepotong-potong. Maksud dan tujuannya mudah ditangkap sempurna. Begitu menguasai bahan. Mungkin karena ilmu dan pengalamannya sebagai santri sekaligus aktivis pergerakan yang selama ini ditimba sehingga ia dekat dengan rakyat. Pada salah satu dinding di ruangan itu, berderet beberapa foto orang-orang yang pakaiannya sama sekali berbeda dengan dirinya. Ketika Matahati diam-diam melihat foto-foto itu, dengan lancar Ra Baddrut bercerita bahkan tanpa diminta.

“Itu warga Madura. Yang menunggang becak itu namanya Marsudi, orang Sumenep. Sebelahnya Ahmad Baihaki, orang Sumenep juga. Yang menyabit rumput itu Pak Juhari, orang Sampang. Di sebelahnya lagi ada Pak Rizki, nelayan di Tanjungbumi, Bangkalan. Sementara yang sedang marapikan garam itu Pak Sulistio, salah satu petani garam di Pamekasan,” kata Ra Baddrut.

Ra Baddrut menjelaskan satu per satu, orang-orang itu adalah orang biasa, orang yang kerap dipinggirkan, orang yang sehari-harinya tidak berurusan dengan kertas dan bulpoin. Mereka, dalam bahasa Ra Baddrut, adalah orang jelata yang setiap harinya tidak selalu makan nasi. Nyaris semua anak mereka tidak sekolah formal.

“Saya kadang sedih jika ingat mereka, ingat apa yang mereka lakukan sehari-hari. Saya tak habis pikir bagaimana situasi itu datang kepada mereka. Foto-foto itu sengaja saya pajang sejak pertama duduk di DPRD ini,” kata Ra Baddrut.

Matahati lihat lagi foto-foto itu. Si tukang becak mengayuh pedal seperti tidak ingin dilepasnya. Yang menyabit rumput tampak erat memegang sabit. Si nelayan mendorong perahu dengan sekuat tenaga. Petani garam menambak air asin seperti tidak peduli pada sinar matahari yang membakar tubuhnya.

Ra Baddrut sekali lagi juga melihat foto-foto itu. Beberapa detik tidak bicara, hingga kemudian bersuara, “saya tidak mungkin melupakan mereka. Saya akan gunakan wasilah ini untuk mereka, hanya untuk mereka. Mereka harus dibela dan diperjuangkan.”

Berbaur                                                

Kini sang aktivis itu masih ingin tetap menjadi aktivis dalam ruang dan waktu yang telah berbeda. Meski sudah menjadi anggota DPRD, Ra Baddrut tidak mau idealismenya terkikis. Baginya DPRD tidak ubahnya “ruang baru” untuk menyalurkan idealismenya. “Jika dulu saya harus menulis catatan pinggir dan melakukan aksi untuk menyuarakan idealisme, kini saya bisa melakukannya dalam konteks yang lebih konkrit. Yakni dengan membuat rumusan kebijakan yang pro rakyat,” jelas Ra Baddrut.

Untuk itu, Ra Baddrut menginisiasi konsep ‘Berbaur’ sebagai kredo politiknya. Berbaur ialah sebuah akronim dari ‘Berbagi Bekerja Untuk Rakyat’. Sebuah semangat mulia yang lahir dari seorang santri aktivis.

Ra Baddrut melanjutkan, untuk mengeksekusi Berbaur ini, setiap akhir pekan ia pasti kembali ke dapil untuk bertemu dengan masyarakat. Dari sekedar cangkruk, sampai diskusi ringan atau menerima keluhan masyarakat. Aktivitas itu dilakukan secara non formal, menanggalkan formalitas yang melekat sebagai anggota dewan apalagi pengurus teras partai.

"Saya setiap akhir pekan pasti pulang ke Madura. Jadi tidak ujug-ujug turun menjelang pemilu. Madura asal saya, rumah saya. Jadi setiap ada kesempatan pasti saya pulang ke Madura untuk bertemu dengan masyarakat Madura," tutur Ra Baddrut.

Ra Baddrut mengungkapkan sebenarnya tak sulit berbaur dengan masyarakat. Apalagi sebagai wakil rakyat merupakan satu kewajiban untuk menyerap aspirasi rakyat. Dan untuk paham aspirasi dan masalah yang dialami masyarakat tidak bisa dilakukan hanya dari balik ruang kerja kantornya di Gedung DPRD Jatim. Namun harus bertemu dan menyapa langsung masyarakat.

Artikel ini diadopsi dari majalah matahati 2016. Baddut Tamam kini masih konsisten dan terus berjuang membela hak-hak rakyat Pamekasan melalui jalur ihtiarnya, Sebagai Calon Bupati Pamekasan 2018. Ia berpasangan dengan Raja’e nomor urut 1. Ra Baddrut-Raja’e mengusung visi "Membangun Pamekasan dari Bawah, Merata, dan Berkeadilan”. Baddrut Taman menjadi pemimpin harapan baru Pamekasan yang terlahir dari lingkungan santri aktivis.

 

Nama : H. Baddrut Tamam, S.Psi

Tempat tanggal lahir : Pamekasan, 02 Desember 1978

Istri : Naila Hasanah

Anak :

1) Nahda El Ikhtimam

 2) Shofia Tamam

3) Mohammad Dzuhri Tamam

 

Riwayat Pendidikan       :

-SD Negeri Tlesah, Pamekasan

-MTs. Mambaul Ulum, Bata-Bata, Pamekasan

- MA. Mambaul Ulum, Bata-Bata, Pamekasan

- Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah Malang

- Pondok Pesantren Sumber Anyar Pamekasan

- Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan

- Pondok Pesantren Al-Hidayah, Lasem, Rembang

 

Organisasi  :

1. Senator Fakultas Psikologi (1999)

2. Pendiri Lembaga Studi Psikologi dan Islam (LSPI Phenomenon) (2000).

3. Lembaga Studi Islam dan Tansformasi Sosial –ElSiTS (2001)

4. Ibn’ Araby Study Club Malang (2002).

5. Ketua Umum PMII Koordinator Cabang (Korcab) Jawa Timur 2007-2008

6. Anggota Balitbang PWNU Jatim (2008-2013)

7. Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur (2010-2014) dan (2014-2018)

8. Wakil Bendahara DPW PKB Jawa Timur (2014-2016)

9. Sekretaris DPW PKB Jawa Timur (2016-sekarang)

 

Pekerjaan  : Anggota DPRD Jatim (2009-2014) dan (2014-2019),

 

Publikasi Karya :

- Menulis Buku, “Nalar Tradisi Pesantren: Geliat Santri Menghadapi Terorisme, Fundamentalisme dan Transnasionalisme Islam” (2015).

- Menulis puluhan artikel yang tersebar di Jawa Pos, Koran Sindo dan Radar Madura



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment