Kenang Keulamaan KH Ahyat Halimy, Anggota DPRD Jatim Masduki Bersholawat Bersama Ribuan Jamaah Isha

By Kontributor 12 Mar 2020, 08:15:29 WIBSosial Budaya

Kenang Keulamaan KH Ahyat Halimy, Anggota DPRD Jatim Masduki Bersholawat Bersama Ribuan Jamaah Isha

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Jatim Masduki saat bersholawat bersama jamaah Ishari di Haul KH Ahyat Halimy


Mojokerto, matahationline.com - Anggota DPRD Jawa Timur Masduki turut hadir dalam acara Haul KH Ahyat Halimy Kota Mojokerto yang berlangsung di kompleks Pondok pesantren Sabilul Muttaqin Kota Mojokerto. Politisi PKB Jawa Timur tampak bersholawat bersama ribuan Jamaah Ishari seraya mengenang keulamaan KH Ahyat Halimy, ulama karismatik yang ikut mengisi perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Masduki berkisah, KH Ahyat Halimy atau Abah Yat merupakan ulama kharismatik pendiri Laskar Hizbullah yang dimiliki Kota Mojokerto. Abah Yat berjasa besar dalam perjuangan melawan tentara sekutu yang akan kembali menjajah Indonesia pasca deklarasi kemerdekaan.

Abah Yat merupakan tokoh asli Kota Mojokerto, yang lahir pada tahun lahir tahun 1918 dari pasangan Hj Marfu’ah dan H Abdul Halim. Dia menjadi yatim sejak di dalam kandungan. Sang ibu merupakan pengusaha batik yang sukses pada masanya. Ahyat kecil menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) Miji.

Setelah lulus, Ahyat kecil melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang. Dia sempat diajar langsung oleh tokoh pendiri NU yang juga pendiri Pesantren Tebuireng, KH Hasyim Asy'ari dan putranya KH Wahid Hasyim.

Karena usianya hampir sebaya dengan KH Wahid Hasyim, selain menjadi santri, Abah Yat juga menjadi teman diskusi ayah Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut. Abah Yat juga menuntut ilmu dari KH Romly di Rejoso, Peterongan Jombang.

"Abah Ahyat terkenal sebagai santri yang sangat disiplin dan sangat dekat dengan santri-santri lain," ungkap Masduki

Lulus dari pesantren, tahun 1938 Abah Yat mendirikan Ansoru Nahdlatoel Oelama (ANO) yang sekarang bernama Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Organisasi ini dia bangun bersama teman-temannya. Antara lain M Thoyib, M Thohir, Sholeh Rusman, Aslan, Mansur Solikhi dan Munasir.

ANO kala itu dibentuk untuk membantu seluruh kegiatan dan program NU. Pada saat bersamaan, Abah Yat juga menjabat Sekretaris Tanfidziyah NU Mojokerto. Padahal usianya baru 20 tahun. Dia lantas dipercaya menjadi Ketua GP Ansor periode 1940-1942. Tahun 1941, Abah Yat menikah dengan Badriyah, putri KH Moh Hisyam asal Desa Gayam, Kecamatan Mojowarno, Jombang.

Perjuangan Abah Yat dimulai saat tentara Jepang masuk ke Mojokerto tahun 1943. Kedatangan pasukan Nippon itu membuat rakyat sengsara. Abah Yat bersama temannya Mansur Solikhi menggalang gerakan GP Ansor untuk melucuti senjata pegawai Pemerintah Hindia Belanda.

Abah Yat juga membentuk Laskar Hizbullah. Pasukan ini dia bentuk bersama teman-temannya, yaitu KH Suhud, Ahmad Yatim dan Mulyadi. Selain kader GP Ansor, ketiga rekannya itu juga usai mengikuti pelatihan militer di Jibarosa, Bogor. Abah Yat menjadi Pembantu Umum di Laskar Hizbullah.

"Seluruh anggota GP Ansor digerakkan untuk masuk ke Laskar Hizbullah. Sehingga tak lebih dari satu bulan, Laskar Hizbullah Mojokerto membentuk dua batalyon," jelas Yazid.

Batalyon pertama dipimpin Mansur Solikhi, batalyon ke dua dipimpin Munasir. Sementara Abah Yat menjadi Komandan Kompi IV di bawah batalyon Munasir. Seluruh senjata pasukan ini dari merampas milik pasukan dan pegawai Hindia Belanda serta dari tentara Jepang setelah mereka menyerah kepada Sekutu.

Pada 20 Oktober 1945, tentara sekutu di bawah komando Jendral AWS Mallaby mendarat di Tanjung Perak, Surabaya. Enam hari kemudian sekutu mendaratkan pasukannya di Kota Pahlawan dengan jumlah lebih besar. Saat resolusi jihad telah dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy'ari 10 November 1945, seluruh personel Laskar Hizbullah Mojokerto berangkat ke Surabaya untuk berperang mempertahankan kemerdekaan RI.

Selama pertempuran mempertahankan kemerdekaan, Abah Yat bertugas khusus mengawal Laskar Sabilillah. Laskar ini terdiri dari para ulama dan tokoh NU. Tugas Abah Yat lebih banyak masuk ke medan perang untuk menyampaikan perintah dari mabes Hizbullah dan Sabilillah. Perang saat itu meluas sampai ke Mojokerto.
"Saat itu terjadi penyergapan tentara rakyat jelata. Gabungan laskar-laskar rakyat melakukan pengahangan terhadap sekutu dan KH Ahyat Hilmy terlibat di dalam pertempuran itu," imbuhnya.

Setelah perang berakhir, Abah Yat mendirikan pesantren mulai 29 April 1964. Surau di Jalan Miji (sekarang Jalan KH Wahid Hasyim) No 36 milik ayahnya, dia bangun menjadi Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin. Pesantren ini bertahan sampai sekarang. Selain itu, Abah Yat juga mendirikan sejumlah lembaga pendidikan di Kota Mojokerto. Seperti SMP Islam Brawijaya. SMA Islam Brawijaya. STM Raden Patah. Pendiri Ponpes Sabilul Muttaqin, dan Pendiri Rumah Sakit Islam Sakinah. Semasa hidupnya beliau ikut berjuang, Beliau Komandan Sabilillah & meraih gelar Pahlawan. Semua harta kekayaan Beliau hibahkan ke NU & Masyarakat.



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment