NU Ku, NU Mu dan NU Kita

By Kontributor 09 Jul 2018, 14:30:07 WIBDunia Islam

NU Ku, NU Mu dan NU Kita

Keterangan Gambar : ilustrasi


matahationline.com - Nahdlatul Ulama (NU) yang telah berusia 92 tahun berdasarkan kalender masehi dan 93 berdasarkan kalender hijriyah dalam perjalanannya mengalami dinamikanya sendiri. Mulai dari menjadi organisasi keagamaan kemudian berubah wujud menjadi partai politik pada pemilu 1955 hingga akhirnya kembali menjadi organisasi keagamaan sesuai khittah 1926 melalui muktamar di Situbondo pada tahun 1984.

Organisasi kaum sarungan yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 atau jika menurut kalender Islam pada 16 Rajab 1437 H di Surabaya oleh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri merupakan organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia bahkan dunia. Tidak kurang dari 45 juta pengikutnya dan tersebar tidak hanya dari Sabang sampai Merauke bahkan hingga keluar negeri dengan didirikannya PCNU-PCNU Istimewa seperti di Jepang, Australia dan Mesir. Berdasarkan fenomena seperti ini wajar jika kemudian NU menjadi salah satu aset terbesar bangsa Indonesia bahkan dunia dalam menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin.

Berbicara mengenai NU maka penulis mendefinisikan NU sebagai jam’iyah keagamaan yang didirikan oleh alim ulama dan menganut paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dalam hal fiqh (atau hukum Islam) berkiblat pada madzhab 4 (empat) yaitu Hanafi, Maliki, Hambali dan Syafi’i meskipun dalam praktiknya madzhab Imam syafi’i lah yang sering kali digunakan khususnya di Indonesia. Sedangkan untuk masalah metode akidah merujuk pada Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Dan dalam bidang tasawuf, NU mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaedi Al-Bahdadi.

Hal ini kemudian berpengaruh juga pada metode pendekatan NU kepada masalah-masalah yang timbul di masyarakat. NU menggunakan tiga nilai yaitu tasamuh(toleran dan menghargai terhadap perbedaan pandangan dan kemajemukan identitas budaya masyarakat), tawasuth wal i’tidal (bersikap moderat yang berpijak pada prinsip keadilan serta berusaha menghindari segala hal yang berbau ekstrim), dantawazun (bersikap seimbang dalam berkhidmat demi terciptanya keserasian hubungan antara manusia (hablumminannas), manusia dengan alam (hablumminal alam) dan manusia dengan Allah (hablumminallah).

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis sampai pada kesimpulan bahwa NU yang penulis pikirkan dan alami adalah sesuatu yang khas yang mungkin akan berbeda pula bagi orang lain dalam menerjemahkan NU yang mereka alami juga. Hal inilah yang kemudian disebut oleh penulis sebagai NU-ku.

NU-mu

Saat ini telah terjadi krisis kepercayaan dari masyarakat kepada alim ulama. Banyak para ustad ataupun kyai baru muncul seiring dengan semakin maraknya audisi ustad atau kyai oleh beberapa stasiun TV pada bulan Ramadhan. Namun ustad atau kyai baru ini hanya merupakan ustad atau kyai an sich, mereka bukanlah alim ulama. Alim ulama sendiri adalah seorang yang selalu mengembangkan sifat ta’at, wira’i, kona’ahkepada sang khaliq.

Hal ini juga yang terjadi pada Nahdlatul Ulama (NU) saat ini. NU telah kehilangan jati dirinya dengan masuk kepada ranah politik praktis, politik tingkat bawah yang kerjaannya dukung mendukung dengan menjual warganya sebagai nilai tawar kepada caleg atau calon kepala daerah tertentu.

NU model seperti ini kebanyakan dapat kita jumpai pada tataran struktural dan politisi gadungan (baca : NU KW 2). Mereka yang tiba-tiba saja menjadi pengurus NU tanpa pernah berjuang dari tataran bawah. Hanya bermodalkan uang dan jabatan masuk menjadi pengurus NU inti mulai dari tataran ranting hingga wilayah. Bagi kalangan politisi gadungan, mereka bersedia masuk NU dengan harapan dapat mewujudkan cita-citanya untuk menjadi anggota dewan atau kepala daerah.

Fenomena seperti inilah yang terjadi pada banyak pengurus NU di berbagai wilayah di Indonesia. Warga NU tidak mempunyai kepercayaan diri bahwa mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa bantuan dari birokrat dan pejabat daerah. Hal inilah yang kemudian oleh penulis disebutkan “NU-mu”, yang kadar ke-NU-annya hanya ditentukan sejauh besar kecilnya kontribusi NU dalam mewujudkan cita-cita mereka.

Jika NU mereka anggap menguntungkan maka mereka akan ramai-ramai masuk menjadi pengurus struktural tanpa merasa malu bahwa mereka tidak pernah berjuang dari tingkat basis, namun begitu tidak menguntungkan, akan dengan begitu saja ditinggalkan. Sehingga menurut mereka NU tidak ubahnya seperti partai politik. Tidak perlu kaderisasi, tidak perlu penguatan SDM, karena siapapun bebas masuk asal mempunyai modal berupa materi atau iming-iming jabatan tertentu. Pandangan seperti ini yang selanjutnya penulis sebut sebagai NU-mu.

NU Kita

Nahdlatul Ulama (NU) ditakdirkan untuk lahir dari desa bukan hanya sebagai strategi dakwah dengan berbagi dengan Muhammadiyah namun lebih dari masyarakat desa adalah masyarakat yang masih memegang erat tradisi dan budaya leluhur yang kemudian di era wali songo dilakukan alkuturasi dengan ajaran Islam. Maka tidaklah mengherankan jika mayoritas jam’iyah NU adalah masyarakat pedesaan yang jauh dari hinggar bingar keruwetan kota dengan segala kontradiksinya. Masyarakat desa adalah masyarakat agraris yang merupakan masyarakat paguyuban (gemeinschaft).

Menurut Ferdinand Torries masyarakat paguyuban dapat dicirikan sebagai berikut: (1) terdapat ikatan batin yang kuat antar anggota; (2) hubungan antar anggota bersifat informal. Inilah yang kemudian ditafsirkan oleh KH Hasyim Muzadi sebagai masyarakat NU asli atau meminjam bahasa Ali Masykur Musa adalah orang NU yang suka dengan STMJ (sholawatan, tahlilan, manakiban dan jiaroh kubur).

Masyarakat yang ikhlas dan istiqomah dalam menjalankan amal ibadah menurut aliran ahli sunnah wal jama’ah tanpa mereka harus terlebih dahulu menjadi pengurus NU atau mencalonkan diri jadi caleg dan kapala daerah dengan menggunakan nama besar NU.

Mereka percaya penuh kepada guru-guru mereka yang ada di desa atau yang dulu disebutkan oleh Gus Dur sebagai kyai kampung. Kyai kampung inilah yang bertugas untuk membimbing, membina dan mengarahkan persoalan muamalah dan ubudiyahmereka. Hal inilah yang kemudian penulis sebut sebagai NU kita semua, warga NU yang ikhlas mengamalkan ajaran-ajaran NU tanpa tendesi apapun baik tahta maupun harta. Hanya mengharapkan ridho Allah SWT semata.

Berdasarkan uraian singkat tersebut di atas, maka hendaknya kita menelaah, merenung dan introspeksi sebenarnya kita berposisi pada golongan NU yang mana? Apakah NU yang pertama, kedua atau ketiga. Wallahua’lam. ***

M. Iwan Satriawan
Wakil Sekretaris PWNU Provinsi Lampung

Source: www.cendananews.com



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment