Politik Kambing Hitam Gaya AS dan Indonesia dalam Buku Cak Imin

By Kontributor 09 Agu 2018, 13:39:09 WIBTokoh

Politik Kambing Hitam Gaya AS dan Indonesia dalam Buku Cak Imin

Keterangan Gambar : Muhaimin Iskandar (Cak Imin)


matahationline.com – Istilah politik kambing hitam tentu bukan suatu frase yang asing lagi bagi kalangan politisi dan akademisi. Politik kambing hitam acap kali terucap oleh kalangan analis politik dalam mengamati fenomena politik yang sedang terjadi. Kali ini akan kembali mengulas kembali politik kambing yang diadopsi dari buku “Kontekstualisasi Demokrasi di Indonesia” 2017 karya Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

perilaku politik yang berlawan dengan spiritualitas politik salah satunya adalah apa yang dinamakan politik kambing hitam. Politik kambing hitam ini berlaku baik di tingkat nasional dan internasional. Sudah sejak lama, beberapa pemimpin negara, pengambil kebijakan dan analis di Eropa dan Amerika Utara menjadikan kelompok fundamentalisme islam sebagai kambing hitam yang dianggap meningkatkan instabilitas politik di berbagai kawasan. Misalnya film-film yang diproduksi Holliwood. Semua film yang bercerita tentang teroris sudah pasti pelakunya bernama “Arab” (yang dapat diartikan sebagai orang Islam). Padahal pelaku terorisme di luar umat islam juga banyak dan jauh lebih besar.

Satu hal yang perlu dicatat  oleh kita bahwa, agama tidak pernah melahirkan terorisme. Teroris muncul dari seseorang atau kelompok masyarakat yang mengalami apa yang disebut dengan ‘deprivasi relatif’. Seperti yang dikatan oleh TR. Gurr dalam bukunya Why Men Rebel (1970)- Ketidaksesuaian ekspektasi dan kapabilitas yang dimiliki seseorang atau masyarakat, sehingga muncul perasaan tersingkirkan dalam berbagai bidang kehidupan, serta ketidakadilan, eksploitasi dan hegomoni suatu negara atas negara lain, satu kelompok atas kelompok lain, terutama karena faktor kesenjangan modal dan teknologi  adalah akar masalah yang sesungguhnya.

Politik kambing hitam tersebut  kini mulai sedikit berubah. Kalau semula hanya orang islam yang dianggap teroris, kini sejak Cina mucul sebagai salah satu kekuatan penting dalam geopolitik internasional, film-film yang diproduksi pun mulai memasukkan orang-orang keturunan Cina sebagai teroris. Dengan demikian, politik kabing hitam dan dunia perfilman sediki banyak juga bagian dari setting intelijen.

Di Indonesia, politik kambing hitam yang terus dipertahankan selama beberapa dekade adalah “komunis” atau “ekstrem kiri” (yang sebenarnya sama efeknya dengan “ekstrem kanan”). Sejak zaman orde baru sampai masa pemerintahan saat ini, ada saja pihak yang menjadikan komunis sebagai kambing hitam, sesuatu yang sebenarnya bukan hanya lucu, tetapi juga menunjukkan kurangnya kreativitas dan kemajuan dalam tradisi berfikir.

Sebagai bangsa kita memang kurang bisa membangun tradisi berfikir yang baik. Yang tumbuh subur adalah kebiasaan menjadi konsumen atau peniru berbagai pemikiran dan gaya hidup produk asing. Mengkambinghitamkan komunis sebagai sumber berbagai persoalan di negeri ini juga hanya meniru hal yang sama yang dilakukan Amerika terhadap gerakan-gerakan islam di Timur Tengah pada Tahun 1950-an. Kelompok-kelompok islam yang dianggap membahayakan kepentingan AS dan sekutunya di kawasan tersebut dicap sebagai “komunis” seperti tertera dalam doktrin Eishenhower.

Kalau setiap pemikiran kritis dan gerakan yang berusaha memperjuangkan keadilan dan kebenaran adalah “komunis”, maka semua Nabi dan pengikutnya seharusnya juga di labeli yang sama, karena para utusan Allah itu selalu berjuang untuk keadilan dan kebenaran.

Karena itulah, ada baiknya jika kita tidak mentradisikan politik kambing hitam secara berkepanjangan, apa lagi kepada pihak yang sama. Hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah politik mencemooh diri sendiri sebagai akibat inkonsistensi dan inkompetensi. Bukankah agama kita mengajarkan bahwa siap yang mengkafirkan orang lain (takfir) maka dialah sendiri yang sebenarnya kafir?. Itu berarti, siapa yang mengkomuniskan orang lain, maka ia sendirilah yang komunis. Siapa yang menduh orang lain teroris, maka sejatinya dialah teroris.[rc]



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment