Renungan Hari Tani 2019: NTP Jatim Harus Berdaya Saing

By Kontributor 24 Sep 2019, 14:59:52 WIBTokoh

Renungan Hari Tani 2019: NTP Jatim Harus Berdaya Saing

Keterangan Gambar : Dra. Hj. Aisyah Lilia Agustina. M.Si. (Anggota Fraksi PKB DPRD Jawa Timur)


Matahationline.com - Mampukah petani bertahan hidup dengan hasil pertaniannya ditengah-tengah kehidupan yang serba konsumsif ini? Hasil pertanian yang kurang menjanjikan sementara tuntutan hidup lebih variatif dan harga barang melonjak. Kira-kira itulah pertanyaaan kita yang bisa kita lihat melalui Nilai Tukar Petani (NTP).

NTP merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayarkan oleh petani. NTP termasuk salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/ daya beli petani di pedesaan.

Selain itu NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. "Kenaikan NTP disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan pada indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian,"

BPS mencatat, NTP nasional pada bulan agustus 2019 adalah 103,22, sedangkan untuk Jatim 109,36, dan Jateng 104,95. Jika dibandingkan dengan NTP nasional dan NTP Jateng, NTP Jatim masih lumayan. Akan tetapi jika kita tidak ada langkah antisiatif dari petani didukung oleh Pemerintah tentu akan tertinggal.

Permasalahan klasik yang selalu melingkari petani sangat kompleks, mulai dari iklim yang kurang bersahabat, suberdaya yang perlu ditingkatkan dan juga perlu adanya sentuhan teknologi, mulai dari hulu sampai hilir.

Pola petik, olah, kemas dan jual yang selalu didengungkan oleh Gubernur Jatim, Ibu Khofifah Indar Parawansa sangatlah tepat diterapkan di sektor pertanian. Jika petani menjual hasil pertaniannya pasca petik tentu jauh dibandingkan jika menjual hasil pertaniannya setelah diolah apalagi setelah dijual.

Sepeti yang dilakukan Petani di Pojok Kulon, kecamatan kesamben Kabupaten Jombang. Petani Pojok Kulon tergabung dalam Gapoktan Pojok Kulon mempunyai NTP yang lebih tinggi dibanding petani lain yang menjual hasil sawahnya yang belum terorganisir. Karena hasil padi mereka tidak dijual dalam bentuk gabah, tapi mereka sudah menjualnya dalam bentuk beras yang sudah dikemas dalam kantong plastik 2 kg, 5 kg da 10 kg, harganya pun sangat terjangkau oleh warga desa. Bahkan, Gapoktan sudah mempunyai BUMDES yang bisa menjawab kesulitan perokonomian mereka. Baik persolan ekonomi keluarga sampai ekonomi untuk meningkatkatkan usaha mereka.

Sehubungan dengan Hari Tani ini, saya berharap langkah sederhana dari model yang sudah ada ini perlu digetok tularkan ke petani petani yang lain. Saya sebagai legislator sebagai katalisator petani kepada Pemerintah Jawa-Timur agar program pertanian nya Pak Dhe Karwo (Gubernur Jatim sebelumnya) dari hulu kehilir dilanjutkan dengan program pola Petik, Olah, Kemas dan Jual milik Bu Khofifah. Hal itu dilakukan agar bisa menaikkan NTP Petani Jawa Timur, meningkatkan kesejahteraan petani, ditengah semakin meningkatnya persaingan dan harapan kemajuan dengan industri 4.0.

Saya yakin potensi alam Jawa-Timur subur makmur, melimpah hasil pertaniaanya anugerah Allah SWT disertai dengan sumberdaya manusia yang rakyatnya pekerja luar biasa. Disertai andil Pemerintah Provinsi Jawa-Timur ada bersamanya akan menciptakan Jawa-Timur lebih berdaya saing di persada Nusantara, dan dimata dunia. Aamiin.

Penulis: Dra. Hj. Aisyah Lilia Agustina. M.Si. (Anggota Fraksi PKB DPRD Jawa Timur)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment